Bahasa | English

 

 
 

 

 

Her Poems

 

6 Sajak tentang Lingkungan

Oleh: Chen Chen Muttahari

 


Puisi 1

Terumbu Karang

Ayuhai terumbu karang!
Kerajaan para duyung dan ikan terbang
Tiada warna tiada rupa
Tidak pula sebarang jejak
Sejak kautinggalkan samudra raya
Hari telah berbilang
Kemana pergi kemana hilang
Segala asin segala bayang-bayang
Ternoda minyak tercemar limbah
Ini anak manusia keparat!
Kami kira laut tempat sampah
Mengamuklah engkau karena sekarat!

Kami manusia bejat
Lupa daratan
Lupa lautan

Bojong Kulur, 2008


Puisi 2

Pasongsongan


Deburan pantai
Pasir putih menyapa
Angin melambai

Laut tersenyum
Bukit garam mencair
Ikan tersipu

Perahu tidur
Di buaian kelapa
dan batu karang

Jagung menguning
Mekar hijau tembakau
Ladangmu hening

Bonsai berbunga
Pohon mangga berbuah
Hutanmu nyepi

Di air terjun
surau engkong berenang
membelah sungai

Sapi dan walet
hiasan padang rumput
dan awan jingga

Jembatan perak
Langit Kamal tenggelam
digulung arus

Buih ombakmu
Nyanyian sunyi feri
di selat biru


Bojong Kulur, 2008


PUISI 3

Danau Belerang


Sebelum senja tenang
Terkenang sebentar
di tepi danau belerang
di puncak gunung

Ketika gunung muntah
pedih perih sekejap
besok petani kembali ke ladang

Di kaki bukit
berkawan anak-anak hewan
Kalau ia membuat api unggun
membakar pohon-pohon tua
besok lusa semua pulau berselimut asap

Siapa yang menjual racun,
plastik-plastik dan uranium
Radiasi itu berhembus kencang
dalam setiap butir udara yang dihirup
sebelum sesak segala nafas

Siapa yang mengirim sampah
semua daging dan buah busuk
kayu-kayu hiasan semua istana
Bau busuk terserap
kekal seribu tahun di perut bumi
bersama mayat-mayat kita sendiri

Sebelum senja tenang
Di tepi danau belerang
Terlalu percaya diri
Mengira diri bayang-bayang Tuhan
khalifah pemelihara bumi
melahap daging halal melampaui batas
menanam sayuran segar menebar pestisida
memakai plastik seperti kulit tubuh sendiri
Lupa bercermin
Ternyata diri bayang-bayang setan
sisakan neraka untuk anak cucu
bumi biru, hijau dan merah
sekarang hitam dan kelabu.


Bojong Kulur, 2009


PUISI 4

Ikan Paus Yunus

Setiap Sabat
kita berlari-lari mengejar laut pasang
jala yang kita tebar
mencoba menggapai matahari terbenam
jingga yang tenang
seribu ikan untuk perut lapar
ke dasar dan menyelam
mencari mutiara yang hilang
menemukan tengkorak putri duyung
seabad sudah kita racuni
kuburnya terumbu karang kelabu

Melanggar senja Tuhan
Ketika kapal tenggelam
seperti Yunus dalam ikan paus
pantai tampak bagai padang pasir tandus
air laut hanya fatamorgana
Ketika perahu karam
seperti Gepetto yang merindukan Pinokio
perut paus adalah gua kehidupan
minyak bumi yang tumpah
lemak jenuh yang membunuh para paus
terengah-engah bernafas di dasar laut
terdampar di pesisir, kita berpesta memanggang daging mereka

Menghabiskan Sabat berjemur di pantai
Sebelum dikutuk menjadi kera
pohon-pohon kelapa menjadi saksi
plastik dan besi yang kita lempar
bukan sauh bukan jangkar
dimakan anak-anak ikan
yang ingin tersenyum dalam akuarium kita
Jika tanah berguncang, jika tsunami menyapa
jangan salahkan batu-batu
yang bergeser
karena kelelahan
memikul tong-tong sampah kita

Bojong Kulur, 2008



PUISI 5

Kapal Nuh

Di sini
Di pantai ini
Aku sendirian
Terdampar dan sengsara

Lihatlah!
Kapal Nuh telah mendekat
Dan aku melambai-lambaikan tangan

Ooi!
Kemarilah!
Aku makan bangkai ikan
yang keracunan sianida
Aku minum air laut
yang ketumpahan minyak mentah
Aku mandi air sungai
yang berlimpah busa formalin
dan aku berjemur
tanpa tabir surya
di pasir penuh debu radiasi
di bawah ozon berlubang ini!

Ooi !
Kapal Nuh
Bawa aku planet lain.

Bojong Kulur, 2008



6. Rahasia Flora

Bunga berdansa
berbisik tentang cinta
rahasia flora

Hutan yang sepi
rumput berbunga liar
berpohon rimbun

Segala peri
mereka terbang riang
merenda musim

Semi dan gugur
salju dengan kemarau
hujan dan panas

Padang pelangi
segala warna tertawa
bersama kumbang

Angin yang tenang
berkawan kupu-kupu
selalu senang

Rahasia flora
musim silih berganti
menanti surya

Sepanjang hari
memandang bunga-bunga
menglipur lara

Bojong Kulur, 2008